tempat berbagi ilmu pengetahuan seputar dayak ngaju
Kamis, 12 November 2009
PELAKSANAAN MANETEK PANTAN
Pantan bisa diartikan sebagai pohon penghalang atau kayu perintang, melakukan pemotongan pantan biasanya dipergunakan dalam menyambut tamu-tamu Pejabat atau tamu terhormat dari luar daerah atau menyambut para pahlawan yang baru pulang dari medan peperangan dengan membawa kemenangan. Acara manetek pantan mengandung dua makna yaitu:
Sebagai ungkapan kebanggaan dan suka cita.
Adalah memotong, mengusir, menghalau firasat-firasat buruk , mimpi buruk , gangguan penghalang dan rintangan .
Sehingga para tamu yang memotong pantan selalu mendapat per perlindungan dari Pencipta Alam Semesta atau Yang Maha Kuasa, sehingga para tamu tadi mendapat kesehatan, diperpanjangkan umur, dimurahkan rejeki dan dalam menjalankan tugas mendapat kesuksesan. Kalau dilihat dari Zaman dulu (Zaman Nenek Moyang), pantan yang akan dipotong tersebut ada bermacam-macam sebagai berikut:
Pantan Haur (bambu) diperuntukkan penyambutan bagi orang yang baru pulang dari medan perang dengan membawa kemenangan dan pantan jenisnya mempergunakan Haur Kuning (Bambu Kuning).
Pantan Balanga (Tajaw) akan dipergunakan pada saat mengadakan acara Perkawinan Adat, sebagai simbol Kebangsawanan atau status sosial.
Pantan Garantung (Gong) tujuannya sama dengan mempergunakan Balanga (Tajaw).
Pantan Bawi yaitu menggunakan para gadis remaja biasanya dilakukan pada waktu pesta perkawianan.
Pantan Bahalai (kain Panjang) dipergunakan untuk para tamu Pejabat, orang terhormat status perempuan yang sulit menggunakan Mandau.
Pantan Tewu (Tebu) dipergunakan pada acara kegiatan bergotong royong saat-saat panen atau mengerjakan ladang.
Hal ini perlu sekali dikembangkan demi mengangkat Seni Budaya Dayak, nilai-nilai leluhur Nenek Moyang, supaya tetap berurat berakar dimasyarakat Dayak khususnya dan menjalin suatu persatuan kesatuan suku, Bangsa Indonesia pada umumnya.
Laluhan ritual yang biasanya dilaksanakan pada saat upacara tiwah yaitu upacara kegiatan pengambilan tulang belulang seseorang yang sudah meninggal dunia
diambil dari lewu liau atau liang lahat dimasuk kembali kelewu tatau yang disebut sandung tempat tulang belulang yang berkaitan dengan kematian yangberagama Kaharingan / Agama Helu.
Laluhan berasal dari kata Laluh yang artinya pemberian ini diantar dengan menggunakan rakit atau angkutan air lainnya. Pemberian dimaksud merupakan ungkapan rasa kebersamaan atau gotong royong untuk mengurangi beban keluarga yang menyelenggarakan upacara tiwah dan dibayar pada saat pemberian menyelenggarakan Ritual Tiwah tersebut.
2. Laluhan pada upacara penyambutan kemenangan, pada waktu pulang dalam kemenangan berperang melawan musuh.
3.Laluhan sebagai tradisi suku Dayak menyambut kemenangan melawan beribu-ribu malam penyakit yang menimpa masyarakat kampung dan kota.
Pelaksanaan seni budaya dan suatu tradisi Dayak merupakan aset budaya daerah, dengan ditonton oleh seluruh masyarakat biasa menggunakan Kapal pery dan kelotok, kapal tersebut dihiasi berbagai macam tanaman yang sangat bermanfaat bagi masyarakat, hal ini menandakan kesejahtraan bagi masyarakat disektor Pertanian, perkebunan, dll.
Seperti yang diadakan di Kabupaten Kapuas setiap tahun yang baru-baru ini dilaksanakan tanggal 4 mei 2004. Merupakan suatu tradisi budaya Dayak Kapuas khususnya, dan sebagai Donatur Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas karena pengembangan budaya laluhan pada tiap tahun dilaksanakan, maka bisa kita artikan termasuk dalam seni dan budaya Dayak khususnya, ini sangat perlu sekali dikembangkan demi untuk peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dalam sektor Pariwisata didalam maupuan diluar Negeri dan patut untuk dilestarikan sepanjang massa.
Pada acara kegiatan Laluhan tampak Mantan Bupati Kapuas ( Ir. H. BURHANUDIN ALI) memeriahkan suatu tradisi Dayak / Budaya Laluhan, dengan memegang batang suli yang khusus dipergunakan untuk kegiatan laluhan dan disinilah kedua belah pihak saling melempar dengan tombak suli , sebagian ada di kapal peri dan sebagian di pelabuhan Rujab.
Mereka yang ada didalam kapal peri adalah ; Bapak-Bapak Pejabat tamu, yang diundang oleh Bupati Kapuas terdiri dari, Bupati Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat dan Bupati Kabupaten Pemekaran. Danyang berada di pelabuhanRujab ialah Bapak Bupati Kapuas beserta unsur-unsur Muspida dan masyarakat Dayak Kapuas, untuk diketahui bahwa kapal peri tersebut dihiasi dengan bermacam-macam buah-buahan, pohon kelapa, pisang dan lain-lain, hal ini menandakan kesejahteraan masyarakat Dayak Kapuas, khususnya di bidang hasil Perkebunan dan Pertanian.
Acara Kegiatan Laluhan
Tata Cara pelaksanaan kegiatan Laluhan oleh Para Sesupuh Dayak/Tokoh Masyarakat Dayak Kapuas yang merupakan suatu tradisi Budaya harus dilaksanakan oleh Masyarakat Dayak Kapuas khususnya, oleh Sesupuh Dayak dengan menggunakan sebatang Dohuk/ Tumbak , kapal peri tersebut di dorong ke arah laut beserta mengucapkan ; dengan berbahasa Kapuas,”Tuh gianku ikau mikeh tege je leket manarantang hung kapal peri je mimbit Bapak-Bapak Tamu Pejabat Daerah beken , kare rutas Dahiang baya Sampar Saribu Sasabutan Bitie”, yang artinya ; ku dorung kapal peri ini yang membawa Bapak tamu daerah Kota lain kearah laut, jika ada sial segala macam beribu-ribu macam penyakit yang menyertai Bapak-Bapak Tamu Pejabat tadi akan ditenggelamkan didalam laut. Hal ini merupakan suatu keyakinan Masyarakat Dayak.
Pelaksanaan kegiatan di mulai kapal Peri tersebut, dengan 3x putaran di sungai dan yang ke 3x-nya baru bisa melemparkan tombak kayu suli, yang masing-masing sudah di sediakan. Pada putaran ke 4x kapal peri tersebut bisa berlabuh di pelabuhan Rujab dan makna dari lempar-lemparan tombak kayu suliyang diartikan dari bahasa Kapuas tersebut diatas adalah,”memerangi segala rintangan dan beribu-ribu macam penyakit hawa nafsu dari manusia, akan di buang ke laut dan tidak akan mengganggu lagi, khususnya dari Kota Kabupaten Kapuas, bisa di kalahkan oleh masyarakat Dayak dengan melalui cara laluhan.
Dengan hakikatnya para tamu/Bapak Pejabat tadi membawa segala rejeki, keberuntungan bagi masyarakat Dayak khususnya Kota Kabupaten Kapuas umumnya.
Sesajian semua darah korban diambil dan disajikan untuk Raja Penyakit, supaya tidak mengganggu masyarakat Kab. Kapuas, juga untuk pendingin dari hawa panas. Pemotongan dilakukan oleh seorang anggota atau pelaksana Balian. Acara Pemotongan kurban 1 babi warna putih sesajian untuk orang gaib ( Pangantuhu ) / Buhei / bapa laut, sebelum di potong babi sesajian diberikan daun sirih, pinang, nasi, oleh pelaksana Balian baru kemudian pemotongan dilakukan.
Kurban 1 ekor babi warna hitam yaitu untuk orang gaib ( Kambe Hai ) yang menjaga Kab. Kapuas. Sebelum di potong dipersiapkan terlebih dahulu daun sirih, pinang dan nasi, di berikan pada babi oleh Pelaksana Balian, untuk dimakan. Pemotongan ayam warna putih, hitam dan tiga macam warna
Ayam warna bulu putih sesajian untuk ( nyai Undang) yaitu orang gaib ; sejarahnya dari kota Bataguh Kab. Kapuas. (Lihat lintasan sejarah di halaman akhir). Ayam berwarna hitam sesajian untuk Antang Patahu ( penjelmaan dari seekor burung elang ). Ayam tiga macam warna sesajian untuk Pampahilep ( orang gaib)
SESAJIAN UNTUK ORANG-ORANG ALAM GAIB
Para basir Balian memberi sesajian untuk sahut parapah Kab. Kapuas ( Pelindung ) artinya pelaksana ( Basir ) menyajikan sesajian untuk roh-roh orang gaib yang menjaga dan melindungi kota Kab. Kapuas dari ancaman semua penyakit, bencana alam dan lain-lain ( Ritual ). Sesajian ini terdiri dari kue-kue untuk roh-roh gaib beserta babi dan ayam yang disediakan khusus untuk roh-roh gaib. Kemudian juga disertai dengan pengantaran sesajian ke Balai Basarah tempat sesajian.
D. ACARA MAMAPAS LEWU
Pelaksana acara mamapas lewu dengan memakai pakaian adat.
Pelaksanaan Mamapas Lewu Kab. Kapuas yang beriringan bertujuan membersihkan Kab. Kapuas dari segala macam penyakit, bencana alam serta kerusuhan yang telah terjadi hingga tidak akan terjadi lagi. Dalam Bahasa Kapuas “ Mamapas kare ganan panyakit sampar saribu sasabutan biti bara lewu Kapuas “.
Dimulai dari Jl. Patih Rumbih menuju ; a. Kantor PEMDA b. Kantor DPRD c. Dinas Instansi Jawatan d. Pelabuhan Rumah Jabatan
PELAKSANAAN MAMAPAS LEWU / KOTA.
Tampak di gambar ini para pelaksana mamapas lewu dan tokoh-tokoh masyarakat Dayak Kapuas, T.E Toepak (wakil Bupati Kapuas) tahun 2004, dan juga diiringi oleh tokoh Dayak Kapuas Ngaju, melaksanakan kegiatan membersihkan atau menyapu segala macam penyakit dan penghalang dalam melaksanakan Pembangunan Daerah kita.
PELAKSANAAN AKHIR RITUAL MAMAPAS LEWU KABUPATEN KAPUAS
Sesajian untuk ritual berakhir. Sesajian tersebut untuk roh-roh gaib / Nyaru (penjaga hujan dan petir), dalam hal ini para Balian memberi tahu bahwa ritual mamapas lewu selesai, maka setelah diambil kembali sesajian tersebut, hari akan hujan disertai dengan bunyi guntur.
lahir dan dibesarkan di Kuala Kapuas, sangat berminat terhadap adat dan budaya dayak kemudian menjadi Ketua Yayasan Utus Dayak dan Pemberdaan Dayak Kab. Kapuas dan menjadi anggota LMMDDKT serta menjadi pengurus beberapa organisasi lainnya yang berhubungan langsung dengan masyarakat